POHUWATO, FAKTAKATA.ID— Kondisi kebersihan di Kabupaten Pohuwato kini menuai sorotan tajam. Di tengah narasi keberhasilan yang kerap digaungkan, masyarakat justru disuguhkan pemandangan yang bertolak belakang. Tumpukan sampah terlihat tidak hanya di pinggir jalan dan kawasan pemukiman warga, tetapi juga di area yang seharusnya menjadi contoh utama, yakni halaman Kantor Bupati Pohuwato.
Pemandangan ini memunculkan ironi yang sulit diabaikan. Kantor bupati sebagai pusat pemerintahan idealnya menjadi simbol kedisiplinan dan kepedulian terhadap lingkungan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sampah yang menumpuk di sudut halaman kantor tersebut menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat.
“Kalau di jantung pemerintahan saja tidak terkelola dengan baik, bagaimana dengan wilayah lain yang jauh dari pusat perhatian?” menjadi pertanyaan yang kini ramai diperbincangkan warga. Kondisi ini dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan lemahnya komitmen serta pengawasan dalam pengelolaan kebersihan.
Sorotan juga mengarah pada kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pohuwato. Di bawah kepemimpinan instansi tersebut, kondisi di lapangan justru dinilai tidak sejalan dengan berbagai klaim keberhasilan yang selama ini disampaikan ke publik. Hal ini semakin kontras ketika dikaitkan dengan penghargaan kebersihan seperti Adipura yang pernah menjadi kebanggaan daerah.
Bagi sebagian masyarakat, penghargaan tersebut kini dianggap tidak lagi merepresentasikan kondisi sebenarnya. Penilaian yang bersifat sesaat dinilai tidak mampu menggambarkan realitas keseharian. Kebersihan, menurut warga, seharusnya diukur dari konsistensi dan keberlanjutan, bukan sekadar penilaian dalam momen tertentu.
Ironi pun semakin terasa. Di satu sisi terdapat simbol prestasi berupa penghargaan, sementara di sisi lain realitas menunjukkan tumpukan sampah yang justru berada di lingkungan pemerintahan sendiri. Kondisi ini berpotensi merusak citra daerah di mata publik, sekaligus menggerus kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Jika tidak segera ditangani secara serius dan berkelanjutan, persoalan ini dikhawatirkan akan terus berlarut. Masyarakat berharap adanya langkah nyata, bukan sekadar retorika atau pencitraan semata. Sebab pada akhirnya, kondisi di lapangan adalah cerminan paling jujur dari kinerja yang ada.
Tumpukan sampah yang kini terlihat jelas menjadi pengingat bahwa penghargaan tidak akan berarti tanpa diiringi komitmen nyata. Pemerintah daerah pun dituntut untuk segera berbenah, agar kebersihan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pohuwato.












